Masalah utama yang ditemukan di lapangan berkaitan dengan sistem sirkulasi dan filtrasi air yang sudah tidak berfungsi optimal. Air kolam yang sering terlihat keruh bukan hanya mengganggu visibilitas perenang saat melakukan manuver di bawah air, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit kulit dan gangguan kesehatan lainnya. Kondisi Prasarana Akuatik lantai di sekitar area tribun dan ruang ganti pun mulai mengalami keretakan yang membahayakan langkah kaki para pengguna. Sebagai fasilitas prasarana publik, standar keamanan harus menjadi prioritas nomor satu. Tanpa adanya perawatan rutin, kerusakan kecil yang dibiarkan akan menumpuk menjadi beban renovasi yang jauh lebih besar di masa mendatang, sehingga efisiensi anggaran daerah justru akan terganggu.
Bagi masyarakat di wilayah Gorontalo Utara, keberadaan pusat kegiatan akuatik adalah simbol kemajuan daerah. Namun, jika fasilitas yang ada justru terlihat terbengkalai, hal ini akan menurunkan minat orang tua untuk mengirimkan anak-anak mereka berlatih secara profesional. Para pelatih lokal pun mengeluhkan sulitnya menjalankan program latihan yang efektif jika kedalaman kolam dan fasilitas blok start sudah tidak lagi sesuai dengan standar kompetisi terbaru. Kebutuhan akan fasilitas yang layak adalah hak bagi setiap warga negara yang ingin berprestasi di bidang olahraga, dan pemenuhan sarana tersebut adalah tanggung jawab moral pemerintah dalam rangka mencerdaskan serta menyehatkan kehidupan bangsa.
Evaluasi teknis menunjukkan bahwa beberapa bagian struktural dari kolam utama telah mengalami kebocoran yang mengakibatkan pemborosan penggunaan air bersih secara masif. Hal ini tentu sangat kontradiktif dengan semangat efisiensi energi dan pelestarian lingkungan. Seruan mengenai perlu perbaikan ini bukan sekadar kritik tanpa dasar, melainkan sebuah aspirasi yang didasarkan pada keinginan untuk melihat atlet daerah mampu bersaing di level nasional. Tanpa sarana yang memadai, sulit bagi perenang dari wilayah ini untuk mengejar ketertinggalan catatan waktu dari daerah lain yang memiliki fasilitas jauh lebih modern. Ketimpangan fasilitas adalah salah satu penghambat utama pemerataan prestasi olahraga di Indonesia.
Urgensi yang bersifat mendesak ini seharusnya segera ditindaklanjuti dengan pengalokasian dana darurat atau melalui skema kemitraan dengan pihak swasta yang beroperasi di wilayah tersebut. Renovasi yang dilakukan tidak boleh hanya bersifat kosmetik, tetapi harus menyentuh akar permasalahan teknis seperti penggantian mesin pompa, perbaikan sistem drainase, hingga standarisasi pencahayaan untuk latihan di malam hari. Pemanfaatan teknologi terbaru dalam manajemen fasilitas olahraga akan memudahkan pengelola dalam melakukan pemantauan kondisi aset secara real-time, sehingga kerusakan sekecil apa pun dapat segera dideteksi dan diperbaiki sebelum menjadi fatal.